Bijak Kelola Sampah

Urusan daur ulang sampah atau recycle mulai bikin saya tertarik tepatnya saat saya SMA dan kuliah. Waktu itu masih ada perpustakaan British Council (ketawan jadul banget ya haha…) dan saya menemukan buku tentang Reduce, Reuse, Recycle. Jadi lumayan nambah ilmu dengan baca bacaan seperti itu. Dulu tuh sempat ada media alternatif yang terbuat dari kertas daur ulang di Jakarta, menarik banget nggak sih? Dan mereka juga menjual beberapa barang terbuat dari bahan daur ulang. Ditambah waktu kuliah kan saya belajar bahasa asing, jadi saya ada akses untuk membaca bahan bacaan yang lebih variatif. Jadi tau kalau di Eropa tepatnya, kebetulan saya kuliahnya Bahasa Jerman, masalah sampah ini sesuatu yang mereka kelola dengan baik.

Dengan info minimalis yang saya baca dari berbagai sumber, yang saya ingat, saya cuma bisa berkontribusi dengan mencuci beberapa kantong plastik untuk bisa dipakai lagi, daripada langsung dibuang ke tempat sampah. Lalu kertas-kertas yang udah saya pakai, biasanya saya gunting-gunting, dikumpulkan, entah selanjutnya dibuat apa. Asal jangan langsung lari ke tempat sampah pokoknya deh. Sempat nonton dokumenter di tivi mengenai fraud alias penipuan, jadi mikir banget untuk membuang kertas atau dokumen yang masih ada nama, alamat dan info tentang kita. Harus dihancurkan dulu deh.

Sejauh ini, saya berkesempatan tinggal beberapa tahun di Eropa, sebagian besar untuk bekerja. Untuk urusan sampah, di sana bikin lega banget. Karena negara tempat saya tinggal, semuanya mengelola sampah dengan cukup baik. Saya sempat tinggal di Norwegia dan Inggris. Saya bisa lebih banyak cerita tentang pengalaman saya di Norwegia, karena tinggal di sana lebih lama. Jadi di masing-masing rumah, pasti ada 3 tempat sampah besar, yang terdiri dari 1. tempat sampah untuk bahan-bahan terbuat dari kertas, kardus, dan sejenisnya, 2. tempat sampah untuk bahan-bahan terbuat dari plastik dan sejenisnya, 3. tempat sampah untuk sisa sampah yang tidak masuk kedua kategori sebelumnya. Di beberapa tempat ada juga yang menyediakan tempat sampah untuk sisa makanan. Lalu ada juga tempat khusus untuk pengumpulan sampah-sampah dari bahan lainnya, misalnya batere dan alat elektronik lainnya.

Yang menarik lainnya adalah adanya mesin penerima botol-botol plastik dan kaleng minuman untuk didaur-ulang. Jadi, pemerintah Norwegia mengenakan pajak yang disebut ‘pant’, jadi misalnya kita beli satu botol Coca cola harganya 19 kroner di supermarket, di kasir ditambah 1 kroner untuk ‘pant’ itu. Untuk botol yang lebih besar 2,5 kroner. Yang bisa kita dapatkan kembali kalau kita mengirim botolnya ke mesin tadi. Biasanya mesin ini terdapat di supermarket. Saya biasanya bawa sekitar 10 botol, lalu dapat bon 10 kroner, yang bisa dijadikan uang ketika bayar belanjaan di kasir. Jadi misalnya belanjaan saya harganya 120 kroner, jadi berkurang 10 kroner dengan memberi bon dari mesin ‘pant’. Impas uangnya, botol plastiknya pun bisa terdaur-ulang. Mimpi banget bisa kejadian seperti ini di Indonesia.

Sampai pada tahun 2017, saat saya kembali ke Indonesia. Urusan berkaitan dengan sampah yang tetap saya bisa lakukan paling hanya menyortir kertas-kertas di rumah. Juga sortir barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi di rumah, untuk didonasikan ke tukang barang bekas yang lumayan sering lewat di depan rumah saya. Untuk botol-botol plastik dan sampah kardus, bapak saya kebetulan juga mengumpulkan lalu mengirimnya ke bank sampah. Yang sayangnya sejak pandemi harus ditutup dan tidak menerima sampah untuk sementara waktu.

Nggak berasa pandemi sudah berjalan setahun. Botol-botol plastik dan sampah kardus semakin menggunung di rumah. Oh ya, kebetulan saya tinggal di Bekasi. Dari rumah, biasanya suka tercium aroma sampah yang terbawa angin begitu. ☹ Sangat tidak menyenangkan. Wallahualam asalnya dari mana. Entah dari Bantar Gebang, yang lokasinya relatif cukup jauh dari tempat tinggal saya. Tapi jadi mikir banget deh kalo harus langsung buang sampah ke tempat sampah di luar itu. Karena memang sampah tersebut ujungnya bakal dibawa ke Bantar Gebang. Terus terang, saya belum pernah ke sana. Katanya sampah di sana tuh udah menggunung. Dan dengar-dengar banyak orang yang tinggal di sekitar situ. Yang menurut saya, miris banget. ☹

Jadi mikir banget gimana saya bisa kontribusi untuk mengurangi sampah. Lalu beberapa waktu lalu, sewaktu browsing di Instagram, saya menemukan akun Waste4Change https://waste4change.com/official/ Excited banget waktu ketemu.

Ternyata manajemen sampah yang selama ini saya impikan udah ada loh. Bahkan lokasinya nggak jauh-jauh amat dari tempat tinggal saya, masih di Bekasi juga. Ini wow banget sih. Baca lebih lanjut deh link berikut tentang Waste4Change –>https://waste4change.com/official/service/responsible-waste-management

Kalau kamu tertarik untuk mengirimkan sampah-sampah di rumah yang sudah dipilah dan bisa di-daur-ulang, klik link berikut deh –>https://waste4change.com/official/service/personal-waste-management

Saya menemukan Waste4Change di bulan Maret, dan ada sekitar beberapa minggu sebelum pengumpulan sampah saya, diambil oleh staf Waste4Change ke rumah. Saya pilih yang diambil per 2 minggu. Jadi saya ada waktu cukup untuk mengumpulkan dan memilah sampah di rumah.

Saya berharap semakin banyak orang yang semakin mengerti akan manfaat pengelolaan sampah yang baik. Kita bisa pilah sampah, kirim ke tempat daur ulang. Atau bahkan memulai langkah awal, yaitu mengurangi sampah.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama penulis: Nelda Afriany”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s