TKI oh TKI (Bagian 2)

KOMPAS sempat menuliskan beberapa artikel yang termuat dalam FOKUS-nya mengenai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bulan November lalu. Yang lumayan bikin kaget adalah pernyataan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia yang meminta kasus Sumiati tidak dibesar-besarkan. Menurut dia, peristiwa itu hanya sedikit kasus kenakalan warga negara biasa dibandingkan dengan banyak TKI yang hidup senang dengan majikan baik (Kompas, 26 November 2010). Hadeuuuh, Om. Silakan komen masing-masing deh…gemess.

Karena pernah bekerja di luar negeri, saya juga menyebut diri saya sebagai mantan TKI. Pasti ada suka dukanya lah. Berikut lebih cerita pengalaman saya ya. Ketika mau memasukkan aplikasi visa ke UK di akhir tahun 2003, waktu itu bagian visa-nya masih berada di gedung Deutsche Bank di Jl. Imam Bonjol. Di depan counter saya langsung disapa seorang staf: “Domestic worker ya Mbak?” dengan gaya yakinnya. Saya bengong. Apa gara-gara saya pakai jilbab ya?

Ketika di UK, saya mempunyai lebih banyak kesempatan berinteraksi dengan orang Indonesia yang juga bekerja. Justru dengan mahasiswa yang jarang. Memang senasib sepenanggungan ya. Kalau dengar cerita-cerita atau dari pengalaman sendiri, para pekerja dari Indonesia itu cukup disukai. Alasannya adalah orang Indonesia itu rata-rata penurut dan nggak banyak mengeluh. Kalau ada kerjaan, ya dikerjain. Kalau ada kerikil-kerikil sedikit di tempat kerja, kita bakal berpikir: “Yah, di Indonesia juga bisa kejadian begini, tapi kan disini gajinya lebih gede.” Ya, kurang lebih begitu.  Betul, nggak? Itu sih kesimpulan saya sendiri.

Seperti cerita berikut. Ketika saya bekerja di satu residential home di London, saya biasanya bangun nggak lama sebelum saya mulai bekerja. Wong tempat saya bekerja ya juga tempat saya tinggal, hehe, udah gitu nggak pake mandi dulu, hihi ketawan deh 😛 Biasanya saya mulai kerja jam 10. Nah, biasanya saya bangun beberapa menit sebelum jam 10. Begitu jam 10 teng, saya langsung keluar kamar. Simpel kan? Suatu hari, lagi enak-enaknya tidur, satu relief worker yang udah standby di rumah dari pagi, teriak manggil saya. Itu jam 9. Otomatis saya terbangun dan tergopoh-gopoh keluar kamar dong. Tau nggak dia tanya apa? Kamu mulai kerja jam berapa hari ini? Ancurrr…nanya itu doang. Saya jawab aja jam 10, sambil bete balik menuju tempat tidur lagi.

Hal-hal tersebut sebetulnya bisa aja saya laporkan ke manager-nya, kalau saya mau. Tapi saya malas. Toh, saya nggak terlalu bermasalah dengan ibu-ibu tadi. Ada juga pernah ada satu insiden, dimana satu relief worker, sebutlah si A, tidak memandikan salah satu residen di rumah saya. Nah, kebetulan saat itu saya yang jaga. Jadi, ceritanya hal ini ketawan si manager. Si manager nanya para residen, saya dan staf yang lain untuk mengumpulkan bukti-bukti. Kebetulan si A itu anak dari si B, salah seorang key worker. Oh ya, kalau key worker itu adalah pekerja tetap yang bertugas di rumah saya, sedangkan kalau relief worker kan cuma pekerja bantu, yang bisa ditugaskan sewaktu-waktu diperlukan, karena key worker nggak ada yang bisa. Nah, berhubung saya juga memberikan saksi yang memberatkan si A, si ibu B beberapa hari nyuekkin saya, yaelaaah…

Sejak di UK pula, saya mulai kenalan dengan orang Filipina yang rata-rata bekerja disana. Bedanya dengan Indonesia, jejaring orang Filipina ini jauh lebih kuat ternyata. Kebetulan ketika di Wales, saya ada 2 teman baik orang Filipina. Salah satunya si M. Saya ingat, suatu hari di musim panas, ketika waktu liburan tiba, kami bersama-sama, dengan satu teman kerja dari Brasil, berangkat ke London, tanpa tau bakal tinggal dimana. Saya dan teman Brasil saya udah kebayang bakalan tidur di taman. Udah kebayang deh bakal diciduk polisi jaga. Ternyata si M punya kenalan, seorang housekeeper Filipina yang tinggal di kawasan dekat Victoria Station. Kami lalu mencari alamat yang dituju. Lalu ada 2 orang pesepeda yang melewati kami sambil saling berbincang: Ini adalah salah satu kawasan paling mewah di London. Booo… Ajaibnya, malam itu kami tidur di basement di salah satu rumah disitu. Kamar pembantu aja kayak di hotel bintang lima. Kamar tidur dan kamar mandinya, asli keren bet! *melongo*

Satu hari di satu shopping mall saya pernah melihat seorang perempuan memakai bergo. Saya yakin dia dari Indonesia. Ternyata benar. Sayang sekali kami nggak bisa ngobrol panjang. Majikannya yang kelihatannya Arab dengan baju gamis hitamnya mau pergi lagi. Ikutlah dia. Saya memang pernah dengar, ada TKI yang bekerja untuk keluarga yang cukup berada di Timur Tengah, yang ikutan majikannya kalau ke luar negeri, misalnya ke Eropa. Diantara yang ikutan itu, ada yang memutuskan melarikan diri dari para majikannya ketika berada di negara tujuan. Apapun alasannya, itulah yang terjadi. Saya sempat dengar ada istilah pramugari di London, yaitu para TKI yang tadinya bekerja di Timur Tengah, lalu kabur dan mencari mata pencaharian di UK.

Satu lagi cerita dari teman Filipina saya si M. Ketika dia mendapat majikan seorang Arab di London. Dia cerita, kalau dia bekerja di dalam rumah, lalu majikannya keluar rumah, maka majikannya itu bakal membawa kunci rumahnya. Ajegilee…nggak di Arab, nggak di UK. Mendengar hal itu saya emosi sekali. Saya meyakinkan si M untuk mencari majikan yang lain. Untungnya dia juga mengakui hal itu sangat konyol.

Sebetulnya masih banyak lagi cerita yang bisa dibagi. Satu lagi aja deh, pengalaman di bandara ketika pulang. Setelah mengambil bagasi di conveyor belt, saya ambil troli lalu melenggang pergi menuju keluar. Di tengah jalan sempat dicegat orang supaya belok ke kiri. Sempat melirik ke kiri, ternyata jalur TKI. Saya bilang bukan. Begitu saya lolos, sempat menyesal, mengapa saya nggak sempat membantu beberapa TKI untuk ikut bersama saya. Mungkin jalur mereka pulang bisa lebih cepat. *keluh*

Advertisements

8 thoughts on “TKI oh TKI (Bagian 2)

  1. Begitu saya lolos, sempat menyesal, mengapa saya nggak sempat membantu beberapa TKI untuk ikut bersama saya. Mungkin jalur mereka pulang bisa lebih cepat. *keluh*

    ==> proud of this sentece..even elo baru “disepelekan” 😀

  2. beneran bangun jam 10 waktu setempat bu? Tidur jam brp? Enak jg ya bisa bangun siang hehehe ..Oh ya 2009 pas gw balik dr Belanda, di bandara Soetta ada petugas yg nyamperin gw minta liat paspor gw .. gileeee emang tampang gw kaya TKI? Hiksss .. emang klo lewat jalur TKI bgm tuh ceritanya Nel? Btw bahas ttg topic pajak barang bawaan dong atau paspor eletronik yg konon baru thn ini keluar dg harga 600 rb an.

    • jam 10 kurang tepatnya. Biar bisa ngumpulin nyawa sebelum kerja hehehe… Tidur jam berapa? Udah lupa 😀 Ahahaha Emang kenapa tampang kayak TKI? Lah kalo gue memang TKI :p Wah, topik yg lu ajukan gue baru denger. Btw, ini komen lu yg keberapa ya hari ini? Lagi semangat bener 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s