Naik Angkot

Indonesia ini negeri penuh inspirasi. Banyak banget hal yang bisa ditulis dan menarik πŸ™‚ Paling tidak menurut saya. Kali ini mengenai hal yang saya alami sehari-hari. Iya, ngaku aja deh, kalau saya ini angkoter, alias pengguna angkutan umum. Seingat saya ‘angkot’ itu singkatan dari angkutan kota, kendaraan umum yang lebih kecil dari mikrolet, yang biasanya muncul di daerah rada pinggiran kota, nggak terlalu di tengah. Tapi ya sekarang istilah angkot lebih umum penggunaannya, ya pada dasarnya angkutan umum lah. Saya menyebut diri saya angkoter, karena sehari-hari saya biasa naik angkutan umum, sebutlah dari angkot, mikrolet, ojek, kopaja, bis, busway, sampai taxi. Kereta aja yang jarang saya gunakan. Dulu waktu kuliah hampir setiap hari. Soalnya saya kuliah di Depok, tinggal di Jakarta.

Malam ini, kurang lebih setengah jam yang lalu, saya baru sampai di rumah. Cara ke rumah? Naik bis. Ketika saya masuk, tempat duduk bis sudah penuh. Ada dua bangku kecil tambahan. Saya duduk di belakang bapak-bapak yang duduk di depan saya. Awalnya saya duduk, tapi karena saya takut terjerembab atau kejengkang ke belakang, supir menawarkan saya duduk di tangga dekat pintu, tempat orang mau turun itu lho. Sebetulnya sih asik-asik aja, tapi bikin pantat rataaaa… sedangkan yang duduk paling depan, yang notabene ngeliatin saya sepanjang jalan, adalah dua orang bapak-bapak yang tak ada niatan sedikit pun menawarkan tempat duduk mereka ke saya. Beginilah nasib cewek yang datang belakangan 😦

Lain lagi cerita di omprengan. Kalau pagi, seringnya saya naik omprengan. Itu lho, transport yang dikoordinir oleh beberapa orang. Bukan angkutan umum resmi. Sebetulnya bisa disebut tumpangan bersama, karena ada beberapa orang yang memang bawa mobil ke kantor, sambil cari receh untuk bayar bensin, jadi dia mempersilakan orang-orang yang mempunyai tujuan sama untuk menumpang di mobilnya, tentu saja dengan imbalan uang. Tapi belakangan ya banyak orang yang memang sengaja ngompreng, alias memang cari duit dari bisnis omprengan ini. Apapun itu, terus terang hal ini cukup membantu kami, yang tinggal di pinggiran Jakarta, untuk menuju kantor kami di Jakarta, tanpa berpindah-pindah angkutan umum.

Tapi seringnya omprengan ini sebelas dua belas dengan angkot. Apa pasalnya? Orang diumpel-umpelin aja gitu, tanpa memikirkan apakah penumpangnya merasa nyaman atau nggak. Lagi-lagi masalah pantat. Saya paling nggak suka kalau naik omprengan, kebagian duduk di belakang mobil van seperti Suzuki Carry, Panther and the like, yang harus diisi 6 orang. Beberapa kali saya dapat duduk paling belakang, dimana pantat saya cuma separuh yang nemplok di kursi, selebihnya nggak ngerti nyangkut dimana. Kebayang nggak sih gimana pegelnya *miris*Β  Belum lagi kalau Ac-nya nggak dingin, macetnya gila-gilaan, kena tilang polisi karena lewat bahu jalan, udah gitu nggak ada hiburan soalnya speaker HP nggak kebawa *menderita pol-polan*

Yang nyebelin kalau naik Kopaja atau Metro Mini, kalau dioper itu lho…hadeuuuh…udah enak-enak duduk, eeeh, disuruh naik yang di belakang, yang seringnya udah puenuuh…ah teganya… Kalau udah bete, dan tujuan nggak seberapa jauh, saya pernah jalan kaki aja, saking keselnya, hehehe…kesel kok malah jalan ya? πŸ™‚

Wah, kalau ditulis kisah-kisah ber-angkot-ria, buanyak banget kali ya.

Kadang saya suka berkhayal, bagaimana kalau pemerintah kita, menganggarkan biaya untuk pelatihan para supir angkot supaya mereka bisa menyetir dengan aman dan nyaman, dan berperilaku sopan dan santun. Kebayang nggak sih, kalau angkot-angkot, minimal di Jakarta, pada suatu waktu, nyetirnya sangat disiplin, berbaris satuΒ  persatu menunggu giliran mendapatkan penumpang dengan tertib. Hahaha…getok kepala dulu deh, lagi mimpi… Tapi mimpi itu bisa nyata kan? πŸ˜‰

Advertisements

4 thoughts on “Naik Angkot

  1. saya juga sering ngebayangin, seandainya paro sopir angkutan umum tertib, ikut aturan, saya pasti ninggalin kendaraan d rumah…..naik angkot ajah biar bisa kenalan dan ngobrol ma orang baru….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s