TKI oh TKI (Bagian 1)

Permasalahan TKI di luar negeri nggak ada habis-habisnya. Walaupun sering dibahas di media, sepertinya nggak banyak solusi yang sudah dilakukan. Buktinya, permasalahan TKI yang diperlakukan semena-mena, disiksa, bahkan dibunuh, masih saja terjadi. Terus terang, mendengar cerita tentang kejadian-kejadian tersebut saya sedih banget. Baru mulai baca artikelnya, atau melihat satu keluarga dengan seorang anak membawa foto ibunya yang sudah tewas, hiks…duuuuh…nggak sanggup meneruskan baca deh. Apa yang bisa saya lakukan ya? *keluh*

Beberapa hari yang lalu saya membaca satu artikel di koran harian Kompas ketika si wartawan melihat dan berjumpa dengan para TKI di bandar udara. Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika saya mengalami hal yang sama. Ketika saya pulang dari UK di awal tahun 2006, untuk pertama kalinya saya naik penerbangan Timur Tengah, saat itu saya memilih Gulf Air, karena memang harga penawarannya yang paling rendah. Sebelumnya saya sudah mendengar banyak penerbangan Timur Tengah yang bagus dengan harga relatif murah. Dari London, kami transit di Abu Dhabi beberapa jam. Di dalam ruangan tunggu, mungkin hampir 90% isinya adalah TKI, ya termasuk saya 🙂 Kalau dari pengamatan saya, kita bisa menebak mana TKI yang bekerja di Timur Tengah, yang tampak lebih bergerombol/berkelompok, dan mana TKI yang kebetulan transit saja di Abu Dhabi. Airport-nya sendiri, tidak seperti perkiraan saya, biasa banget.

Ketika kami beranjak untuk mengantri menuju bis yang akan membawa kami ke pesawat, disitulah mulai terjadi percakapan saya dengan beberapa TKI. Nah, jelas-jelas dong saya pakai bahasa Indonesia, ada yang bertanya: Mbak, dari Filipina ya? *hadeuuuh, maksudnya?*

Sewaktu mengantri, ada beberapa Mas-mas yang jelas-jelas orang Indonesia yang dengan seenak udel-nya nyelonong mau keluar aja, hadeeuuuh, malu deh. Untungnya petugasnya lumayan sigap dan tegas memperingati.

Baru masuk di bis, saya duduk di kursi belakang, langsung disapa Mbak-mbak yang duduk di sebelah. Dia cerita, dia bekerja di Kuwait (atau Yordania ya? maaf, lupa, yang jelas bukan Arab Saudi atau UAE). Saya penasaran berapa sih yang mereka dapat. Dia bilang sekitar 100 Dollar. Ooooh. Eh, dia langsung curhat: Saya juga pernah mau diperkosa sama majikan saya, Mbak. *duuuuuh…sedih*

Ketika mulai masuk ke kabin pesawat, saya membawa satu kopor kecil saya dan ransel. Tiba-tiba petugas menarik kopor saya. Mau dimasukkan ke dalam bagasi. Duuuh, terus terang bikin parno deh, soalnya kopor saya itu nggak digembok! Kenapa juga nggak dari tadi ketika check-in mereka lihat dan ambil sih?Untungnya barang-barang di dalamnya utuh sampai ke Indonesia.

Begitu masuk ke kabin, durudumdumdum…berasa di Metro Mini! Biasanya mah orang langsung sibuk cari nomor tempat duduknya lalu duduk manis, bukan? Ini sih, para TKI itu sibuk cari tempat duduk yang mereka mau, dan dengan teman yang mereka mau. Hadeeeuuuuh mbak’e… Ini bukan merendahkan semua TKI itu, tapi saya hanya mencoba mendeskripsikan kejadiannya. Ini sebetulnya bisa jadi masukan bagi para pengajar di PJTKI, bahwa sopan santun di pesawat terbang sebaiknya diajarkan juga.

Sudah para TKI itu heboh, eh ada juga beberapa Bapak-bapak kelihatannya orang Timur Tengah dengan gamisnya yang kesannya juga ikutan heboh dengan mondar-mandir cari perhatian, hadeuuuh…ngapain sih? Bikin pramugarinya senewen. Dalam keadaan seperti itu, sayangnya, pramugarinya jadi judes, nggak menunjukkan wajah yang simpatik. Oalah…

Bersambung…

Advertisements

13 thoughts on “TKI oh TKI (Bagian 1)

  1. hahaha.. gak kebayang klo liat langsung si arab yg make gamis mondar mandir nyari perhatian.. trus tampang si pramugarinya.. hahaha kebayang gimana rusuhnya para TKI tu.. mereka pikir mau pergi tamasya kali..

  2. hehehe. gak heran seh. knp akhirnya para majikan TKI itu marah, kesel, akhirnya menyiksa, pembinaan mereka kurang. maklum lah mereka pendidikan mungkin rendah, di PJTKInya juga kurang melakukan Pelatihan.

  3. saya pernah diceritakan temen yang juga pernah bekerja di Arab(tapi dia tenaga Profesional) dan bertemu bbrp TKI disana. TKI nya berkenalan dengan temen saya itu kemudian bercerita keluhannya. dia selalu di omelin majikannya. di marahi, meskipun gak sampe disiksa, karena permasalahannya dia beberapa kali merusakan barang-barang elektronik milik majikannya. karena cenderung ngasal n gak tahu cara pakenya. jadi mau disalahkan sepenuhnya ke pihak luar gak Fair juga seh. emg bener-bener Pe er bwt Kita semua. sebaiknya TKI yg blm siap n modal skill pas2 an jangan diberangkatkan dulu

    • Itulah yg menjadi perhatian, bahwa TKI tanpa persiapan yg sesuai kok nekat diberangkatkan? Ini kan urusan jiwa orang. Coba lihat Filipina, rata2 tenaga kerja mereka bisa bahasa Inggris dan cukup bagus (bahkan banyak yang berpendidikan tinggi, lulusan universitas) – tujuan mereka biasanya ke negara yang berbahasa Inggris. Ini adalah masalah mendasar, persoalan bahasa, untuk komunikasi. Nah, kalau Indonesia kan, baru bisa bahasa tujuan negara sedikit sekali sudah nekat dikirim dengan alasan memenuhi kuota, semuanya seperti diburu-buru. Belajar bahasa kok hanya hitungan beberapa bulan? Belum lagi pelatihan keterampilan. Menurut saya perlu juga pelajaran mengenai hal2 mendasar seperti cara check-in, naik pesawat dan etikanya. Penting. Bukan masalah malu2in, tetapi lebih kasihan juga melihat mereka dinilai miring atau rendah oleh bangsa kita sendiri dan juga bangsa lain.

  4. Memang dari tenaga penyalurnya yang kurang profesional dan pemerintah Indonesia yang kurang peduli.

    Miris memang melihatnya, sampai disana juga disiksa dengan alesan “nggak patuh / nggak ngerti” ya gimana lagi. Kalo pinter ya nggak jadi babu, jadi rocket scientist. Udah dari pihak kitanya yang nggak bisa ngurus, dari pihak employer juga keterlaluan :S

    Eh, salam kenal ya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s